Jumat, 29 November 2013

Pandangan negatif masyarakat terhadap penari Gandrung


(Manusia dan Penderitaan)



Asal istilah kata "Gandrung" memiliki arti terpesona, suka, atau terarik. Dapat pula Kata "Gandrung" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Tarian ini dipertunjukan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen.
Tarian ini melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). Jadi dalam tarian ini Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju". Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya.
Dalam sejarahnya gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi. Menurut cerita waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah di lakukan tapi semi tidak kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar "Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi". Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang atau penari gandrung. Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya.
Pada penjelasan di atas, penari gandrung sering di menari berpasangan dengan laki-laki. Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.


Sumber :
http://www.google.com/images

Tidak ada komentar:

Posting Komentar