(Manusia dan Penderitaan)
Asal istilah
kata "Gandrung" memiliki arti terpesona, suka, atau terarik. Dapat
pula Kata "Gandrung" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat
Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa
kesejahteraan bagi masyarakat. Tarian ini dipertunjukan sebagai perwujudan rasa
syukur masyarakat setiap habis panen.
Tarian ini
melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu
(terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). Jadi dalam tarian ini Tarian
dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan
laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju". Gandrung sering
dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan,
tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya.
Dalam
sejarahnya gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung
Semi. Menurut cerita waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala
cara sudah di lakukan tapi semi tidak kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak
Midhah) bernazar "Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak
ya tidak jadi". Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang atau
penari gandrung. Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh
adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama
panggungnya.
Pada penjelasan di
atas, penari gandrung sering di menari berpasangan dengan laki-laki. Di sisi
lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di
tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri
menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan
mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan
terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber :
http://www.google.com/images

Tidak ada komentar:
Posting Komentar