(Manusia dan Kegelisahan)
Pantun sunda adalah
cerita tutur dalam bentuk sastra sunda lama yang di sajikan secara paparan
(prolog), dialog dan seringkali dinyanyikan. Seni pantun itu di lakukan oleh
seorang juru pantun (tukang pantun) sambil diiringi alat music kecapi yang di
mainkannya sendiri. Dalam perkembangannya cerita-cerita pantun yang dianggap
bernilai tinggi it uterus bertambah, seperti cerita Lutung Kasarung, Ciung
Wanara, Mundinglaya Dikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang dll.
Pantun sunda
disajikan dalam dua bentuk. Yang pertama sajian untuk hiburan dan yang kedua
merupakan sajian ritual (ruwatan). Sebagai sajian hiburan, pantun diceritakan atas
permintaan penanggap. Sebagai sajian ruwatan, pantun di sajikan sama dengan
cerita wayang, seperti Batar Kala, Kama Salah, atau Murwa kala. Pertunjukan
pantun, baik dalam fungsi hiburan maupun ritual, tidak di sajikan sembarangan.
Di daerah tertentu
pantun masih di gemari masyarakat, meskipun dalam jumlah yang semakin mengecil
dan hampir tidak ada lagi pertunjukan pantun untuk memeriahkan suatu acara. Hal
ini di sebabkan oleh pengaruh zaman dan pengaruh teknologi, sehingga
pertunjukan pantun kalah bersaing dengan pertunjukan-pertunjukan modern
lainnya. Demikian juga para juru pantun makin lama makin berkurang, danjuga
beberapa versinya yang makin lama makin memudar.
Jangan sampai kita
melupakan kesenian-kesenian Indonesia, seperti yang terjadi pada pantun sunda.
Kita harus melihat perkembangan zaman dan mengikutinya, tetapi kita tidak boleh
menggantikan budaya-budaya Nasional dengan budaya modern.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar