Jumat, 29 November 2013

Perhatian pemerintah terhadap seni budaya Gandrung


(Manusia dan Keadilan)



Pada penulisan sebelumnya tentang Gandrung yang berjudul "Pandangan negatif masyarakat terhadap penari Gandrung" yang menjelaskan asal-usul gandrung, dan pandangan masyarakat terhadap gandrung. Kali ini saya akan membahas tentang bagaimana reaksi pemerintah terhadap pandangan negati masyarakat pada Gandrung. Apakah pemerintah dengan adil menanggapinya. Menurut definisi yang saya baca, keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.
Dalam permasalahan ini, cara mengubah pandangan masyarakat terhadap gandrung sudah dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan gandrung Banyuwangi. Bahkan kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak.
Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Lalu Sejak Desember 2000, Tari Gandrung resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat seperti Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat.
Dengan demikian pemerintah dapat mengubah pandangan masyarakat tentang penari Gandrung dari citra negatif menjadi positif. Juga menjadikan tari gandrung menjadi maskot pariwisata Kota Banyuwangi.


Sumber :
http://www.google.com/images

Pandangan negatif masyarakat terhadap penari Gandrung


(Manusia dan Penderitaan)



Asal istilah kata "Gandrung" memiliki arti terpesona, suka, atau terarik. Dapat pula Kata "Gandrung" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Tarian ini dipertunjukan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen.
Tarian ini melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). Jadi dalam tarian ini Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju". Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya.
Dalam sejarahnya gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi. Menurut cerita waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah di lakukan tapi semi tidak kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar "Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi". Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang atau penari gandrung. Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya.
Pada penjelasan di atas, penari gandrung sering di menari berpasangan dengan laki-laki. Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.


Sumber :
http://www.google.com/images

Kamis, 28 November 2013

Kesenian reog lahir dan bersemayam pada masyarakat Ponorogo


(Manusia dan Pandangan Hidup)



Dalam penulisan sebelumnya yang berjudul "Reog, kesenian yang tetap terjaga keasliannya" yang menjelaskan tentang asal-usul reog dan perkambangannya di Ponorogo. Kini saya akan melanjutkan penjelasan tentang reog, yaitu pandangan masyarakat Ponorogo terhadap kesenian reog. Dalam mengharumkan kesenian reog, sampai sekarang masih banyak pementasan reog dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional.
Dalam pementasan seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda, tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan. Tarian pembukaan lainnya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
Selanjutnya adalah adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar. Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.
Dalam pementasan Reog, iring-iringan reog terdiri dari pengawal, pendamping, penari, pemukul gamelan dan pengiring. Dalam pengarakan pengantin reog selalu mendapat perhatian dari acara-acara lainnya yang membuat suasana menjadi lebih meriah. Sebagai suatu seni masyarakat, reog dipakai untuk menumbuhkan kecintaan pada seni budaya bangsa. Selain fungsinya yang sudah nyata, sebagai pengumpul massa dan hiburan.


Sumber :

Reog, kesenian yang tetap terjaga keasliannya


(Manusia dan Tanggung Jawab)



Penjelasan Reog, Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut, dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Ada beberapa versi cerita yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul reog dan warok.
Salah satu cerita tentang asal-usul reog yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi. Pemain harus dapat menopang berat topeng singa barong yang beratnya mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Dalam pementasan tariannya tokoh warok pada saat menari dalam keadaan "kerasukan". Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya dengan keasliannya.
Kita harus menjaga setiap kebudayaan Nasional dan manjaga keaslian setiap budaya bangsa, dan tidak menggantikannya dengan budaya lain.


Sumber :

Serimpi, tarian yang lemah gemulai


(Manusia dan Keindahan)



            Serimpi adalah suatu tari klasik dari daerah Yogyakarta yang selalu dibawakan oleh 4 penari putri, karena kata serimpi adalah sinonim bilangan 4. Hanya pada Serimpi Renggowati yang penarinya ada 5 orang. Menurut Dr. Priyono nama serimpi dikaitkan ke akar kata “ impi “ atau mimpi. Menyaksikan tarian lemah gemulai sepanjang ¾ hingga 1 jam itu seperti orang yang dibawa kea lam lain, alam mimpi.
            Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi penari serimpi melambangkan empat mata angin atau empat unsur dari dunia, yaitu : Grama ( api ), Angin ( udara ), Toya ( air ) dan Bumi ( tanah ). Tema yang di tampilkan pada tari serimpi yaitu menggambarkan pertikaian antara dua hal yang bertentangan antara baik dengan buruk, antara benar dengan salah, dan antara akal manusia dengan nafsu manusia.
            Serimpi di bawakan oleh Abdi Dalem Bedoyu dan juga putri Sentono Dalem Atau putri keluarga raja. Tari serimpi di peruntukan hanya untuk masyarakat di lingkungan istana Yogyakarta, yakni pada saat menyambut tamu kenegaraan dan tamu agung. Sekarang serimpi mengalami beberapa perkembangan salah satunya pada segi durasi. Dahulu serimpi pada setiap penampilannya bisa disajukan selama kurang lebih 1 jam,sedangkan sekarang untuk setiap penampilan sermpi di tarikan dengan durasi kurang lebih 11-15 menit saja dengan menghilangkan gerakan pengulangan dalam tari serimpi.
            Upaya yang harus kita lakukan dalam melestarikan tari serimpi adalah dengan menyediakan sanggar – sanggar tari klasik yang mengajarkan tari serimpi kepada para generasi muda.


Sumber :