(Manusia dan Pandangan
Hidup)
Dalam penulisan sebelumnya yang
berjudul "Reog, kesenian yang tetap terjaga keasliannya" yang
menjelaskan tentang asal-usul reog dan perkambangannya di Ponorogo. Kini saya
akan melanjutkan penjelasan tentang reog, yaitu pandangan masyarakat Ponorogo
terhadap kesenian reog. Dalam mengharumkan kesenian reog, sampai sekarang masih
banyak pementasan reog dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan
dan hari-hari besar Nasional.
Dalam pementasan seni Reog
Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian
pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba
hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok
singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis
yang menaiki kuda, tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan. Tarian
pembukaan lainnya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang
disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
Selanjutnya adalah adegan inti
yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan
dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan
khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar. Adegan terakhir adalah singa
barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang
terbuat dari bulu burung merak.
Dalam pementasan Reog, iring-iringan reog
terdiri dari pengawal, pendamping, penari, pemukul gamelan dan pengiring. Dalam
pengarakan pengantin reog selalu mendapat perhatian dari acara-acara lainnya
yang membuat suasana menjadi lebih meriah. Sebagai suatu seni masyarakat, reog
dipakai untuk menumbuhkan kecintaan pada seni budaya bangsa. Selain fungsinya
yang sudah nyata, sebagai pengumpul massa dan hiburan.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar