Kamis, 28 November 2013

Kesenian reog lahir dan bersemayam pada masyarakat Ponorogo


(Manusia dan Pandangan Hidup)



Dalam penulisan sebelumnya yang berjudul "Reog, kesenian yang tetap terjaga keasliannya" yang menjelaskan tentang asal-usul reog dan perkambangannya di Ponorogo. Kini saya akan melanjutkan penjelasan tentang reog, yaitu pandangan masyarakat Ponorogo terhadap kesenian reog. Dalam mengharumkan kesenian reog, sampai sekarang masih banyak pementasan reog dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional.
Dalam pementasan seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda, tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan. Tarian pembukaan lainnya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
Selanjutnya adalah adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar. Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.
Dalam pementasan Reog, iring-iringan reog terdiri dari pengawal, pendamping, penari, pemukul gamelan dan pengiring. Dalam pengarakan pengantin reog selalu mendapat perhatian dari acara-acara lainnya yang membuat suasana menjadi lebih meriah. Sebagai suatu seni masyarakat, reog dipakai untuk menumbuhkan kecintaan pada seni budaya bangsa. Selain fungsinya yang sudah nyata, sebagai pengumpul massa dan hiburan.


Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar